About

Teks Jalan

Assalamualaikum...Selamat Datang di My Dreams Come True Blog........Semoga Semua Isi Dalam Blog Ini Bermanfaat.........Terimaksih Atas Kunjungannya, Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Anda di Blog Ini.....Wassalamualaikum

Perhatian!!!

Minggu, 03 Juni 2012

Islam dan Keadilan

Share it Please

Keadilan di Indonesia 
Dilihat dalam Sudut Pandang Islam

            Pengadilan merupakan suatu proses pengambilan keputusan mengenai suatu perkara melalui lembaga peradilan. Dewasa ini banyak terjadi kasus ketidakadilan di Indonesia. Hal ini mulai menjadi permasalahan sosial yang berlarut-larut tanpa adanya penyelesaian yang berarti. Dalam suatu pengadilan seharusnya seorang Hakim dapat mengambil keputusan dengan seadil-adilnya tanpa adanya paksaan atau bahkan bujukan dari pihak yang tak bertanggung jawab.
Masih teringat dalam ingatan kita tentang kisah yang terjadi pada Nenek Minah (55). Ia tak pernah menyangka perbuatan isengnya memetik 3 buah kakao di perkebunan milik PT Rumpun Sari Antan (RSA) akan menjadikannya sebagai pesakitan di ruang pengadilan. Bahkan untuk perbuatannya itu dia diganjar 1 bulan 15 hari penjara dengan masa percobaan 3 bulan. Padahal Nek Minah sudah meminta maaf kepada pihak PT Rumpun Sari Antan dan mengembalikan kakao yang Ia petik. Anehnya Nek Minah masih saja menjalakan proses pengadilan sampai vonis diberikan oleh hakim. Berbeda halnya dengan kasus yang menimpa Muhammad Nazarudin. Siapa yang tidak mengenal Muhammad Nazarudin? Pria yang sebelumnya merupakan salah satu petinggi penting di partai Demokrat, yang menjabat sebagai bendahara umum partai ini terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan kejahatan korupsi, bahkan majelis hakim juga berkesimpulan jika nazarudin ini telah melakukan kejahatan white collar crime dengan memanfaatkan posisi dan jabatannya untuk tujuan mengeruk keuntungan pribadi dan merugikan negara, majelis hakim berpendapat bahwa Nazarudin telah memanfaatkan akal bulusnya untuk melakukan kejahatan sistematis ini, karena itu berdasarkan beberapa pertimbangan yang memberatkan maupun meringankan, majelis hakim setuju untuk menjerat Nazarudin dengan pasal 11 UU Tipikor tentang penerimaan hadiah. Lalu apa yang terjadi dengan vonis yang diterima oleh Sang Koruptor? Ia diganjar dengan hukuman 4 tahun 10 bulan kurungan penjara dan denda Rp 200 juta. Vonis ini lebih rendah dari tuntutan jaksa penutut umum yaitu hukuman 7 tahun penjara dan denda Rp 300 juta. Suatu keadaan yang kontras melihat Nenek Minah yang bahkan telah mengembalikan kakau yang Ia petik tetap mendapat hukuman, sedangkan Nazarudin yang terbukti menggelapkan uang miliyaran hanya di hukum 4 tahun, sungguh hal yang sangat aneh terjadi di negeri ini.
Menurut saya ini merupakan suatu bentuk ketidakadilan yang terjadi dalam proses pengadilan di Indonesia. Ketidakadilan sangatlah bertentangan dengan ajaran Islam. Dalam Islam tidak diajarkan bagaimana kita menjadi manusia yang berlaku tidak adil, sebaliknya Islam selalu mengajarkan kita untuk berlaku adil dan tidak memihak kepada seseorang, karena perbuatan tidak adil sangat dilaknat oleh Allah. Seperti dalam Al-Quran Surat Al-Maa’idah: 8, yang artinya :
Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al- Maa’idah : 8)
            Berlaku adil sangatlah dianjurkan oleh Islam. Terlebih lagi dalam suatu proses pengadilan. Dalam pengadilan seorang hakim dituntut mampu menjatuhkan suatu hukuman secara adil. Dalam kasus yang telah kita bahas, terlihat bahwa terjadi suatu ketidakadilan dalam peradilan di Indonesia. Mungkin ketidakadilan tersebut bisa saja terjadi karena adanya perbuatan tidak bertanggung jawab oleh seorang terdakwa. Bisa saja telah terjadi penyuapan oleh terdakwa kepada hakim. Suap bisa saja terjadi dalam proses peradilan, padahal kita tahu bahwa suap sangat dilaknat oleh Allah SWT. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah : 188, yang artinya :
Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. (Q.S. Al_Baqarah : 188).”
Dan dalam hadits dinyatakan:
“Allah melaknat penyuap, penerima suap dan yang memberi peluang bagi mereka. (HR. Ahmad).”
            Jadi seharusnya rasa untuk berlaku adil dapat diterapkan di setiap hati manusia, terlebih lagi bagi seorang pengadil seperti hakim, jaksa dll. Di dunia ini seluruh umat manusia sangat menginginkan keadilan yang setegak-tegaknya, tidak ada lagi pandang bulu atau pandang jabatan, semua harus sederajat di mata hukum. ehingga tidak ada yang dilakukan tidak adil oleh seorang pengadil. Bila rasa adil telah tumbuh di dasar hati kita, tentu saja kita dapat menegakan semua hukum yang berlaku tanpa rasa takut akan setiap ancaman, karena Allah akan selalu ada di hati kita.
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika Ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. (Q.S An-Nisa : 135) “

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Follow Me @Twitter